
JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Demokrat dinilai tidak memiliki tanggung jawab politik karena tidak membentuk tim independen untuk menelusuri tudingan mantan bendahara umumnya, Muhammad Nazaruddin, mengenai dugaan praktik politik uang. Padahal, langkah itu penting untuk menunjukkan komitmen dalam pemberantasan korupsi.
Hal itu diungkapkan pengamat politik dan ahli hukum tata negara Saldi Isra dan pengamat politik J Kristiadi di Jakarta, Selasa (26/7/2011). ”Partai Demokrat pernah mengampanyekan partai antikorupsi. Namun, dengan adanya tudingan Nazaruddin, Partai Demokrat tidak membentuk tim independen untuk menelusuri,” tutur Saldi.Semestinya, ujar Saldi, tudingan Nazaruddin ditindaklanjuti dengan pembentukan tim independen di Partai Demokrat. Tim dapat berasal dari orang dari luar Partai Demokrat untuk menelusuri sejauh mana kebenaran tudingan Nazaruddin.
Jika tidak membentuk tim independen itu, lanjut Saldi, Partai Demokrat akan terus terpenjara dalam tudingan Nazaruddin tersebut. Sejarah politik juga akan mencatat bahwa Partai Demokrat yang mengampanyekan antikorupsi ternyata tidak memiliki tanggung jawab politik untuk menindaklanjuti atau menelusuri tudingan Nazaruddin.
”Tidak bisa berhenti di situ (rakornas). Mestinya embusan Nazaruddin ditindaklanjuti di internal Partai Demokrat dengan membentuk tim independen untuk menelusuri kebenaran tudingan Nazaruddin,” kata Saldi.
Menurut Kristiadi, tudingan Nazaruddin mengenai dugaan praktik politik uang Partai Demokrat telah menimbulkan kecurigaan publik. ”Kecurigaan itu bisa sah karena selama ini tidak ada transparansi, akuntabilitas, dan pertanggungjawaban kepada publik dari mana dana parpol, berapa besar dana yang diperoleh, dan apa penggunaannya,” kata Kristiadi.
Oleh karena itu, menurut Kristiadi, diperlukan audit politik di dalam Partai Demokrat. Audit politik tersebut dapat dilakukan dengan membentuk tim independen untuk menelusuri tudingan Nazaruddin. ”Audit politik itu perlu untuk mengembalikan kredibilitas Partai Demokrat yang sudah jelek saat ini,” ujarnya.
Lebih lengkap baca di KOMPAS

